Prompt Day #7: Obrolan Caca
Beberapa hari lalu kami berkunjung ke rumah Eyang dan Kakung Caca serta Bimo di Salatiga. Eyang dan Kakung terakhir bertemu kami kira-kira 3 bulan yang lalu, saat Bimo menjalani khitan di Salatiga. Tidak hanya Eyang dan Kakung, Caca dan Bimo pun sangat antusias untuk bertemu dengan seluruh keluarga disana.
Caca dan Bimo mempunyai hubungan yang cukup erat dengan
keempat kakek neneknya (Eyang & Kakung, Oma & Opa). Sehingga saat
bertemu langsung, tidak ada lagi rasa canggung untuk saling berbicara dan
mengungkapkan perasaan rindu.
Caca anak yang cukup ekspresif dan suka bercerita. Kalau
kata Eyang, Caca berbicara dengan cepat, seperti Papa-nya. Saat bertemu, banyak
yang Caca ceritakan kepada Eyang dan Kakung. Pengalaman naik bus pertama kali,
cerita tentang mainan Caca di rumah, cerita tentang film kesukaan dan buku
favorit, dan masih banyak lagi.
Tiba saat kami harus kembali ke Jakarta, kami bangun
pagi-pagi dan pergi menuju stasiun di Semarang. Saat sedang berbenah, Caca mengungkapkan
kesedihannya karena akan meninggalkan Eyang dan Kakung-nya sendirian di
Salatiga.
Caca : Ibu, kita
mau pulang ke Jakarta? Kita mau naik kereta?
Ibu : Iya Ca,
kita naik kereta pagi ya, nanti siang sudah sampai Jakarta.
Caca : Siapa saja
yang ke Jakarta, Bu?
Ibu : Kita
berempat. Ibu, Caca, Kak Bimo dan Sus Ola
Caca : Eyang dan
Kakung ngga ikut ya? Kenapa tidak dibelikan tiket sama Ibu?
Ibu : Iya, kan
memang Eyang dan Kakung tinggalnya disini, di Salatiga.
Tiba-tiba air muka Caca berubah menjadi sedih, dengan mata
yang sedikit berkaca-kaca
Caca : Eyang dan
Kakung kasihan, ngga ada yang temenin disini
Ibu : Iya, nanti
kalau sedang libur, kita main kesini lagi ya. Atau nanti Eyang dan Kakung yang
datang ke Jakarta
Wah saya cukup terharu mendengarnya, Caca bisa mengungkapkan
kekhawatiran dan empatinya pada anggota keluarga. Semoga Caca selalu saya yaa
Ca kepada semua keluarga. Terima kasih, Caca.

Komentar
Posting Komentar